Avansado.com | Oleh: VA Safi’i

Jika sampeyan-sampeyan semua sempat mengikuti perkembangan berita demonstrasi di Hong Kong, berarti sampeyan-sampeyan masih ingat dengan pernyataan juru bicara Gedung Putih Amerika Serikat, Nancy Pelosi yang pernah mengatakan bahwa protes kekerasan yang terjadi di Hong Kong adalah “pemandangan yang indah untuk dilihat”. Sekarang, “pertunjukan yang indah” di Hong Kong tersebut pindak ke puluhan kota-kota besar di Amerika Serikat.

Saat ini, para politisi Amerika Serikat bisa menikmati sambil menghirup putao pertunjukan protes tersebut dari masing-masing jendela rumahnya. Pejabat dan politisi Amerika Serikat bisa menyaksikan secara langsung bagaimana para demonstran berteriak-teriak mencaci maki mereka di jalanan, membakar kantor polisi, membakar mobil polisi, menghancurkan toko-toko, dan memperok-porandakan fasilitas publik. Para pejabat dan politisi Amerika Serikat juga bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana “para pemberontak Hong Kong ala Amerika” menyusup ke Amerika Serikat dan membuat kekacauan sebagaimana yang mereka lakukan selama setahun lebih di Hong Kong. Soal isu, tidak beda jauh. Di Hong Kong isunya adalah Cina Hong Kong versus Cina Daratan. Sedangkan di Amerika Serikat adalah kulit hitam versus kulit putih.

Mencermati apa yang terjadi di Hong Kong (Cina) dengan yang sedang terjadi di Amerika Serikat saat ini, saya berpikir (semoga ada agen-agen Amerika Serikat dan agen-agen Cina yang membaca tulisan pendek ini) “bagaimana jika pemerintah Cina dan Kongres Rakyat Nasional Cina mengeluarkan pernyataan yang intinya mendukung protes warga kulit hitam dan kulit berwarna di Amerika Serikat?” Menurut pemikiran saya, pihak Beijing bisa melakukan hal tersebut dengan mengikuti logika berpikir yang selama ini dilakukan oleh pihak Washington yang mendorong dan mendukung protes di Hong Kong. Pihak Cina bisa menggunakan kartu Hong Kong untuk melanjutkan permainan dengan Amerika Serikat. Apalagi, pada hari Jum’at (29 Mei), Presiden Donald Trump telah mengumumkan untuk menambahkan sanksi terhadap Cina berkaitan dengan masalah Hong Kong.

Persoalan diskriminasi dan rasialisme di Amerika Serikat bisa saja bersifat sistemik. Namun, demonstrasi yang berlangsung saat ini, sepanjang pengetahuan saya, sifatnya spontanitas, yakni dipicu oleh kematian tragis seorang warga kulit hitam yang dilakukan oleh polisi kulit putih.

Saya yakin, dengan melihat cara menghadapi dan penanganan yang brutal yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat terhadap para demonstran memberikan gambaran pada kita bahwa Amerika Serikat tidak siap dengan meletusnya demonstrasi tersebut. Artinya, negara super power tersebut tidak siap menghadapi kondisi darurat seperti demonstrasi rakyat. Sampeyan-sampeyan bisa bayangkan sendiri, demonstrasi baru berlangsung 4 hari namun yang ditangkap sudah lebih dari 1.500 demonstran dan yang meninggal sekitar 8 orang. Bayangkan saja jika demonstrasi tersebut berlangsung selama 1 hingga 6 bulan, maka saya yakin Amerika Serikat akan bubar seperti yang dialami oleh Uni Soviet pada tahun 1990-an. Bukti lain dari ketidaksiapan negara tersebut juga bisa dilihat dari “ketidakmampuan” mereka saat menghadapi wabah virus corona yang telah menginveksi lebih dari 1,8 juta penduduknya dan membunuh lebih dari 100 ribu orang.

Sekali lagi, saya tetap beranggapan bahwa demonstrasi yang berlangsung di Amerika Serikat merupakan pergerakan massa rakyat yang sifatnya spontanitas. Perihal mengenai begitu cepatnya membesar dan meluas serta terlihat begitu beringas, setidaknya disebabkan oleh dua faktor, yakni stress karena virus corona dan rasa ketidakadilan yang dialami rakyat.

Hampir 2 bulan rakyat Amerika Serikat hidup dalam lockdown alias stay at home. Selama mereka menjalani masa lockdown, selama itu juga warga Amerika Serikat hidup di bawah bayang-bayang ketakutan dan kematian. Terlebih dari fakta yang ada, sebagian besar penduduk yang mati karena corona adalah penduduk miskin, yang tidak lain warga kulit hitam. Semua itu terjadi karena adanya sistem yang berbau diskriminasi rasial dan juga ketimpangan sosial yang serius, di mana warga kulit putih hidup makmur sedangkan warga kulit hitam hidup di bawah garis kemakmuran.

Protes yang dilakukan oleh rakyat, sebenarnya tidak akan terjadi (jika terjadipun, kecil) bila KEMAKMURAN dan KEKAYAAN yang dimiliki oleh suatu negara dibagi secara adil dan merata. Kasus protes yang sedang berlangsung di Amerika Serikat menunjukkan adanya ketidakadilan dan ketidakmerataan pembagian kekayaan negara tersebut. Akibatnya, ada segelintir penduduk yang kaya, dan sebagian besar lainnya hidup dalam kemiskinan. Seperti yang sudah saya tulis di artikel sebelumnya bahwa Amerika Serikat adalah negara koorporasi atau tempat berkumpul dan bersembunyinya kaum kapitalis (pemilik modal). Dalam negara yang sistem seperti itu (kapitalisme) maka tidak mungkin ada keadilan dan pemerataan dalam pembagian kemakmuran dan kekayaan. Sekali lagi, tidak akan terjadi!

Lalu, apa yang harus dilakukan? Saya teringat dengan omongan peletak dasar Sosialisme Ilmiah, yakni Yang Mulia Kanjeng Gusti Doro Tuan Majikan Karl Marx bahwa tugas kita bukan hanya untuk MEMAHAMI dunia saja, melainkan adalah MENGUBAH dunia! Pilihan ada di masing-masing sampeyan-sampeyan: mau berubah atau tidak!

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *