Avansado.com | Oleh: VA Safi’i

67 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 26 Juli 1953 ditetapkan sebagai hari bersejarah bagi rakyat Kuba yang kemudian berdampak ke seluruh dunia, setidak-tidaknya di Amerika Latin. Hari dimana 119 orang revolusioner melakukan pemberontakan di barak militer Moncada yang berada di sebuah kota Propinsi Santiago de Cuba yang lokasinya berjarak sekitar 870 km sebelah tenggara ibukota Havana.

Pemberontakan tersebut mengalami kegagalan. Ada yang tewas dan ada yang ditahan. Diantara yang ditahan adalah Fidel Castro dan adik kandungnya, Raul Castro. Pemberontakan melawan rezim diktator, Fulgencio Batista. Pemberontakan ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Movimiento 26 de Julio (Gerakan 26 Juli).

Para tahanan, kemudian dibebaskan pada tahun 1955. Selanjutnya, Fidel Castro cs. mengungsi ke Meksiko untuk bergabung dengan orang-orang Cuba lainnya. Di Meksiko pula, Fidel Castro bertemu dengan Che Guevara. Dari sinilah, oleh 82 oranglah, rencana penggulingan terhadap rezim Batista dibuat.

Pada bulan Desember 1958, 82 orang tersebut meninggalkan Meksiko dengan menaiki sebuah perahu menuju Cuba. Begitu mendarat di wilayah Propinsi Granma, mereka langsung terlibat pertempuran dengan pihak militer. Banyak yang tewas, dan yang tersisa hanya 12 orang. Dengan modal 12 orang inilah revolusi di daratan Cuba dikumandangkan. Berhasil. Dengan dukungan rakyat Cuba mereka berhasil menggulingkan rezim Batista. Batista sendiri melarikan diri ke negara tetangga Republik Dominika pada tanggal 1 Januari 1959.

Revolusi belum berakhir. Rezim Batista yang didukung oleh Amerika Serikat berhasil digulingkan. Dan, Cuba harus menghadapi tahapan revolusi selanjutnya, yakni menghadapi embargo negara-negara imperialis yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Sejauh ini, Cuba berhasil bertahan. Meskipun diembargo di segala bidang, Cuba pun sukses menjadi negara yang mandiri.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *