Avansado.com | Oleh: VA Safi’i

Kesimpulanku mengenai Si Dokter Miskin ini adalah “terlebih dahulu jadilah seorang manusia sebelum menjadi seorang dokter”.

Seorang teman mengirimiku sebuah link facebook berbahasa Arab yang berisi tentang kisah seorang “dokter miskin” asal Mesir. Melalui bantuan terjemahan google, aku pun membaca kisah tentang si dokter miskin tersebut, yang kurang lebih isinya sebagai berikut:

Mohammad Machali adalah seorang dokter asal Mesir yang lulus dari Fakultas Kedokteran pada tahun 1967 dengan nilai skor 99,3%. Hebat. Nyaris sempurna.

Di Mesir, orang-orang menyebutnya “si dokter miskin” karena hanya fokus menangani dan mengobati orang miskin. Sepanjang hidupnya, dia menghabiskan umurnya untuk melayani pasien orang miskin secara gratis. Khusus bagi pasien kaya, dia memungut biaya sebesar 0.65 dolar atau sekitar 9 ribu rupiah.

Mohammad Machali bekerja selama 10 jam setiap hari mulai dari jam 9 pagi hingga jam 7 malam. Dan, setiap hari pula, ratusan orang berbaris antri di depan pintu kliniknya.

Lulus dari kedokteran (S1), Mohammad Machali tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dia melakukan hal tersebut karena dia harus bertanggung jawab terhadap hidup adik laki-lakinya dan membesarkannya. Dia harus menggantikan posisi orang tuanya yang meninggal dunia tidak seberapa lama dirinya lulus dari sekolah kedokteran. Mohammad Machali juga punya 3 anak dan semuanya lulus dengan gelar insinyur.

Mohammad Machali tidak mendapatkan gaji. Kliniknya hidup dari sumbangan sukarela orang-orang yang bersimpatik padanya. Setiap sumbangan yang ada, dia pergunakan untuk membeli peralatan medis dan juga obat-obatan.

Suatu hari, ada orang kaya yang menyumbangkan mobil mewah padanya. Machali menerima. Celakanya, sehari kemudian, Mohammad Machali menjual mobil tersebut, dimana uang hasil penjualan mobil tersebut dipergunakan untuk membeli peralatan di laboratoriumnya.

“Setelah aku wisuda, aku baru tahu bahwa ayahku yang sakit tidak menggunakan uang berobat untuk berobat tetapi untuk membiayai sekolahku agar aku menjadi seorang dokter. Sejak saat itu, aku pun bersumpah kepada Allah SWT bahwa aku tidak akan memungut sepeserpun uang dari pasien orang miskin”.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *