Avansado.com | Oleh: VA Safi’i

Dalam biografinya, Nelson Mandela menulis:

“Setelah diriku menjadi presiden, aku meminta beberapa petugas keamanan untuk menemaniku berkeliling kota. Kami pergi ke sebuah restoran. Kami duduk dan memesan makanan masing-masing.

Sambil menunggu karyawan membawa makanan kami, aku melihat seseorang yang duduk di depan menunggu makanan pesanannya. Aku pun bilang pada salah satu pengawalku: “Pergilah ke orang itu, dan ajak dia duduk semeja dengan kita.”

Pria itu pun datang dan duduk di sebelahku. Kami mulai makan siang. Selama makan, keringat berkucuran dari dahinya, tangannya gemetaran dan tidak bisa memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Setelah semua selesai makan dan orang itu pergi, pengawalku berkata: “Laki-laki tadi sepertinya sedang sakit. Tangannya gemetaran. Dan hanya makan sedikit.”

Aku pun menjawab: “Tidak. Tidak seperti yang engkau duga. Orang tersebut adalah sipir atau petugas penjara saat diriku di penjara. Setiap kali dia menyiksaku, aku berteriak. Saat aku minta air minum, dia datang dan mengencingi kepalaku sepanjang waktu. Jadi, dia takut kalau diriku akan memperlakukan hal serupa pada dirinya sebagaimana yang dia lakukan padaku, menyiksaku dan memenjarakanku. Sungguh, balas dendam yang demikian itu tidak etis…”

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *